Sedikit Mengenai Penunggang Badai - "Bernyawa"

                                                                                  Bernyawa

Seketika aku sedang melamun di depan jendela kamarku, handphoneku berdering. Segera aku meraihnya dan kulihat muncul nomor asing disana. Seribu tanya hadir dikepalaku. Siapa?
Dengan melemahkan seribu pertanyaan yang ada diotakku kala itu, kuangkat dan....
“Halo...,” sapaku.
“...,” hening.
Secepat kilat kututup handphoneku dan melemparnya ke kasur.
“Sialan! Siapa sih?” tanyaku dalam hati.
Dering handphone yang telah merusak momen galauku sangat menjengkelkan. Kini aku harus membangun kembali rasa itu dan meresapinya. Menghayati setiap khayalan dan memori dipikiran ini.


Tak berapa lama, handphoneku berdering kembali. Kuraih dari kasurku dan segera kuangkat tanpa pikir panjang dan langsung ku luapkan kekesalanku.
“HEI! Tau ga sih ini jam berapa? Etis tidak jika menelepon orang jam segini, kemudian tidak berbicara sepatah katapun? Mengganggu saja!”
“Halo...,” jawabnya.
Aku terdiam karena jawaban dari seorang lelaki diujung sana. Suara orang itu terdengar tidak asing untuk telingaku.
“Maaf ya mengganggu waktu istirahat kamu. Aku hanya ingin memastikan  kalau nomor kamu ini masih bisa aku hubungi. Aku Yudha,” ujarnya sebelum telepon itu mati.
Aku terpaku beberapa lama sambil memandang layar dari handphoneku.
“Yudha...,” gumamku.
Lelaki yang pernah satu Sekolah Dasar denganku itu menghubungiku....
Dia yang pernah membuatku merasakan apa itu arti harapan semu. Harapan yang diperjuangkan sendiri. Harapan yang tidak akan pernah berujung indah. Buktinya aku. Aku yang masih merasa luka hati ini belum sembuh. Sang waktu lupa akan wewenangnya untuk menyembuhkan. Sang waktu lupa untuk mengobati. Sekilas ingatanku terlempar kembali menuju masa-masa itu. Masa-masa ketika kumerasakan dia itu hanya milikku, dia selalu ada untukku. Begitu sebaliknya.

Namun, rasa itu hanya fatamorgana.
Dia pergi..
Menghilang...
Tiada kabar dan aku tak pernah lagi bersua dengannya....
Namun, kini ia hadir kembali kekehidupanku. Membangkitkan kembali ingatan kala itu.
Apa dia tak pernah membayangkan bagaimana jika ia menjadi aku?
Aku yang sudah bahagia dengan kehidupanku sekarang, yang sudah melupakan sisi kelam masa laluku, yang sudah menikmati jalan hidupku. Kini harus terusik lagi dan harus berhadapan kembali dengan ketakutanku selama ini. Memang rasa itu sudah hilang, tapi bukan berarti hilang untuk selamanya.
Ia tetap ada, hadir, dan bernyawa di dalam hati ini.

 This is a short story that I had written a year ago, "Bernyawa" is part of Penunggang Badai (My first Baby. I mean my Novel :D) *I don't sell my Novel anw*
Some of the incidents in the story (Penunggang Badai) are inspired by my own life. I hope you guys like it. Feedback is always welcome.Gbu :)







Komentar

Postingan Populer